JARIT MERAH

Aku masih saja menangis meraung-raung dalam keadaan bugil. Tak kupedulikan debu yang menyebar karena tingkah polah kakiku. Berharap agar ibuku segera mamaafkanku.

Ya,aku saat ini masih berusia 1 tahun 3 bulan. tak ada satu manusiapun yang mengerti bahasaku walaupun ku berkali-kali memanggil ibuku , yang terdengar hanya raungan dan raungan.

Debu yang mengorbit disekitarku semakin membuat tubuhku berwarna. Alami. Aku memang anak yang nakal aku tak mau mandi bahkan bias dibilang aku takut oleh air. entah kenapa. Akupun sulit untuk disuruh makan, sekalipun itu disuapi. Yang kusuka hanyalah memainkan mainan kayu yang tampak seperti mobil buatan almarhum ayahku. Ya ayahku sudah meninggal saat aku masih berusia 7 bulan dalam sebuah kecelakaan kerja yang tragis.

Aku masih saja melayangkan tendangan-tendangan ke tanah. Menjadikan debu semakin menyelimutiku.

Saat ada ayah saja kami sekeluarga sudah merasakan kesulitan ekonomi , apalagi dengan munculnya aku sebagai anak pertama dari keluarga yang sangat sederhana ini. Beban semakin bertambah berat pula saat ibuku menjadi orang tua tunggal. Ibu mencoba memenuhi kebutuhan makan ku dengan menjual jasa mencuci pakaian di rumah pak haji imam, satu-satunya orang yang kaya di kampungku. Ironinya pak haji imam pulalah yang menjadi salah satu penyebab kematian ayahku. Ayahku pekerja serabutan. Seminggu sebelum kematian ayahku, beliau sempat terpeleset saat membetulkan genting rumah haji imam tapi tak sampai jatuh. Sesampainya di rumah beliau mengekuh sakit di bagian ulu hatinya. Seminggu kemudian sampailah ajalnya.

Kira-kira sudah setengah jam lebih aku meraung-raung di depan rumahku tapi tetap saja tak ada ibuku yang rela membukakan pintu untukku.

Setelah ditinggal ayahku ibuku menjadi lebih pemarah, mungkin ia jengkel melihat tingkahku. Yang kupedulikan hanya main saja. Lari sana, lari sini, sambil membawa sendok di kanan dan piring yang berisi nasi dan berlauk krupuk di tangan kanan. ibuku yang sedang marah tampak sedang mangajak bermain di mataku walaupun kenyataannya lain.

Cahaya matahari sore yang keemasan tak membuatku berhenti meraung-raung. aku lebih heran lagi kenapa tak ada seorangpun yang mendengarku tak terkecuali para tetangga.

Sore itu ibu hendak memandikanku. Aku yang sedang bermain dengan mobil buatan ayahku merasa terganggu oleh tangan-tangan kasar ibuku yang mencoba melucuti bajuku. Setelah ibuku berhasil melucutiku tanpa sengaja aku menendang cucian milik keluarga haji imam yang baru saja selesai di cuci ibuku. Kontan saja ibuku melonjak marah. Dia mengejarku, aku berlari keluar rumah. Tapi tak seperti dugaanku dia justru berhenti dan balik menutup pintu. Membiarkanku telanjang di luar.

Entah sudah berapa lama aku menangis, hingga sampai ku merasa sudah mulai capekuntuk terus meraung, muncullah wanita paruh baya yang tergopoh-gopoh berlari ke arahku sambil mengangkat bagian bawah mukenanya agar tidak ,menjerat kakinya sendiri. Disusul di belakangnya lelaki paruh baya yang masih tampak memakai sarung datang dengan mimic tak kalah cemasnya dari wanita di depannya.

“ada apa Nak!” kata wanita itu sambil tangannya meraih kedua ketiakku sehingga tubuhku dapat terangkat olehnya dengan mudah.

Aku hanya diam sambil masih sedikit tersedu-sedu.

“Narti…….Narti……!’ lelaki paruh baya yang sebelumnya berada di belakang wanita yang membopongku setengah berteriak memanggil ibuku sambil tangan kanannya mengetuk-ngetuk pintu.

“Anaknya nangis dari tadi kok diam saja hei…..!”

Karena tetap tak mendapat jawaban lelaki itu mendorong pintu rumahku dengan tendangannya. Sekali dua kali akhirnya di tendangan yang keempat pintu itu berhasil terbuka.

Akhirnya aku dapat melihat ibuku.

Entah apa yang dilakukannya dengan jarit merah yang biasanya dipakai untuk menggendongku kini terikat dilehernya dengan ujung yang lain terikat di kerangka atap rumahku. Tampak kursi kayu buatan ayah tergeletak di bawahnya.

Kakinya menggantung di atas permukaan tanah, lidahnya menjulur, dan keluar darah dari sisi kanan mulutnya.

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun…..Narti….!” teriak wanita paruh baya itu sambil berlari ke arah ibuku dan dengan tangannya yang masih menggendongku.

Sementara lelaki paruh baya yang berhasil membuka pintu, mendahului wanita tadi untuk
meraih ibuku .

aku tetap dan masih terisak.

“hei jangan menonton saja ayo saya dibantu!”

Ternyata tanpa kusadari sudah ada banyak orang yang berdiri di tengah pintu rumahku. Baik wanita atau pria tak ada satu pun yang wajahnya tak menunjukkan rasa takut dan cemas.

Aku menangis lagi karena takut melihat begitu banyak orang di rumahku.

Akhirnya dua orang pemuda dan seorang bapak membantu lelaki paruh baya itu melepaskan ikatan jarit merah di leher ibuku dan menurunkannya untuk dibaringkan di lantai.

Aku masih menangis dipelukan wanita paruh baya. Tapi wanita itu sama sekali tidak membujukku untuk diam. Dia malah sibuk memperhatikan orang-orang yang juga sibuk dengan ibuku.

Datang lagi seorang bapak berkacamata sambil membawa tas hitam di tangan kanannya memegang leher ibuku. Lalu dia mengeluarkan benda berwarna hitam yang kira-kira sepanjang tangan lelaki itu dan menyentuhkan ujungnya ke dada ibuku.

“kita sudah terlambat Pak” kata bapak yang berkaca mata kepada lelaki paruh baya.

“innalillahi wa inna ilaihi roji’uun……. Pak mudin tolong segera sebarkan berita duka ini lewat cerobong masjid! Sementara yang lain segera urus jenazah mbak Narti.” Kata lelaki paruh baya itu yang tampak memerintah beberapa orang.

Aku masih menangis dan tetap dipelukan wanita paruh baya. Kali ini yang kutangisi bukan karena ku takut dengan kehadiran banyak orang tapi karena aku tak juga dimandikan oleh ibuku.

……………………………………………………………………………………….

Getaran handphone di saku kiriku menyadarkanku dari lamunan.

“Abi sudah sampai mana?” suara buah hatiku yang cemprang tapi tetap terdengar merdu olehku terdengar penuh harap.

“ya sayang, abi sebentar lagi sampai, ini masih istirehat sebentar. Umi dimana?” aku balik bertanya.

“umi masih menyiapkan surprise buat abi. Cepat bi izza udah kangen…….” Rengek gadis 12 tahun itu manja.

Aku masih saja berbincang-bincang dengan anakku sambil ku beranjak dari makam ibuku yang berdampingan dengan makam ayahku untuk menuju ke mobil Toyota crown seri royal saloon berplat merah milikku, atau lebih tepatnya milikku salama menjadi anggota parlemen.

Desa yang dulu dipenuhi orang miskin nan kumuh kini berubah menjadi semi kota. Hamper di setiap sudutnya terdapat tempat sampah dan papan informasi yang mengobati dahaga warganya yang haus akan pengetahuan dan informasi.

Dan setiap ku melintasi desa ini setiap itu pula aku mencoba membayangkan apa yang kurasakan 40 tahun lalu. Ya disini di samping makam ibuku anganku seolah dibawa oleh malaikat pengatur waktu dan menciba berimajinasi apa yang kufikirkan dan kurasakan waktu itu.

Kini di desa ini hanya beberapa orang saja yang kukenal karena selebihnya sudah menemani ibuku terbaring di tanah dan sebagian lagi merantau mencari jalan hidup masing-masing. Hingga akhirnya desaku dulu yang miskin kini menjadi haram bagi orang miskin kareana kesejahteraan social yang merata.

Di sebelah barat makam ibuku kurang lebih selisih 8 meter ada dua pasang makam yang dikijing karena merupakan tokoh masyarakat di daerah ini. Meraka adalah ibu dan ayah asuhku yang tak lain adalah pak haji dan bu haji imam. Merekalah orang pertama yang menemukanku meraung di depan pintu rumahku sendiri.

Kurang kebih 375 km ke arah barat desa ini ada sebuah kota kecil tempat tinggal istriku dan buah hatiku. Dulu aku diperkenalkan oleh ayah semangku pada seorang mitra bisnisnya di kota tersebut yang ternyata punya anak gadis yang sanggup melunakkan hatiku. Butuh pengorbanan yang cukup hebat untuk meraih hatinya dan hal itu terlalu panjang untuk kuceritakan. Dia tidak bersedia untuk kuajak pindah ke ibukota karena harus mengurus bisnis dan hal-hal sepele lain di kotanya. Ya itu pilihannya lagi pula itu tandanya dia percaya kalau aku tidak akan berpaling atau sekedar melirik pada wanita lain.

Di kota itu pulalah aku dibawa menjadi anggota parlemen daerah 5 tahun yang lalu. Dan akhirnya kini aku menjadi anggota parlemen pusat. Dan tanpa berbesar kepala semua kemajuan di provinsi ini khususnya di desa ini tak luput dari turut campur tanganku.

Setiap tiga bulan aku mengunjungi daerah yang membawaku menjadi wakil di parlemen. Untuk melihat apa-apa yang patut untuk dirubah di daerah asalku. Ya itu sudah menjadi perintah atasan. Semua anggota parlemen yang lain pun melakukannya. Dan saat itu pulalah aku kembali disini di desa ku desa ibu dan ayahku yang walaupun sekarang aku lupa wajahnya tapi kasih saying mereka seolah masih melekat di hatiku.

Aku melihat sopir pribadiku tampak berbincang dengan seseorang. yak aku punya seorang sopir pribadi yang juga kubawa dari kota asal istriku. Aku sudah menghentikan pembicaraan dengan anakku dan mengalihkannya pada istriku.

“sudah pak ji, ayo berangkat.” Kataku padanya sambil tersenyum kea rah orang yang diajaknya berbicara.

Sambil berpamitan pada teman mengobrolnya pak ji tanpa banyak bicara segera meletakkan pantatnya di belakang kemudi. Dia menyetarter mobil.

Mobilpun beranjak perlahan diiringi oleh suara deru halus khas mobil mewah.

Aku dudk di belakang pak ji. Tapi terasa ada yang mengganjal di pantatku. Aku meraihnya dengan tangan kananku. Aku hanya tersenyum. Benda yang mengganjal itu adalh jarit merah milik ibuku. Yang sering digunakan untuk menggendongku. Dan yang digunakannya untuk menggantung kehernya sendiri. Walaupun aku tahu hal itu semua dari cerita ibu asuhku, tapi setidaknya barang ini mampu mengingatkanku akan asalku.

“Jarit merah oh……………” aku berbisik sendiri dan bersamanya ku terbuai lagi dalam lamunan-lamunan kasih saying ibuku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s