CURHAT UNTUK SBY Sejarahku dan Sejarah Kotaku

(ini adalah sebuah antologi buku saya yang pertama,, nah untuk pemesanan buku berikut resensinya, bisa dilihat di sini)

Pak SBY, karena judul buku ini Curhat Untuk SBY, bukan Kritik Untuk SBY atau Saran Untuk SBY. Maka saya akan benar-benar curhat sama Bapak. Saya akan menceritakan tentang kehidupan saya dan tempat tinggal saya. Semoga Bapak tidak bosan.
Kenalkan Pak nama saya Moenir al-Banny, tapi itu hanya nama saya di dunia maya. Sebenarnya saya dilahirkan dengan nama Muhammad Misbakhul Munir. Sebuah nama dengan arti yang indah pemberian ayah saya. Bapak boleh memanggil saya Munir atau Misbah tapi saya lebih suka dipanggil Munir. Saya dilahirkan di sebuah rumah sakit milik pemerintah di kabupaten Kediri tepat 21 tahun yang lalu pada 29 Nopember mendatang.
Saya dilahirkan dikeluarga biasa yang amat memegang teguh ajaran agama. Saya tumbuh besar di kabupaten Kediri bagian barat hampir berbatasan dengan kabupaten Nganjuk, tepatnya di kecamatan Grogol. Konon nama daerah Grogol di Jakarta di ambil dari nama kecamatanku ini. Karena dulu mantan presiden Sukarno pernah berkunjung ke Grogol dan untuk mengenang kunjungannya tersebut beliau membangun sebuah prasasti di suatu desa di Grogol dan menamai satu daerah di Jakarta dengan nama Grogol pula. Saya juga menempuh hampir semua jenjang pendidikan saya di Grogol kecuali saat kuliah, karena saya kuliah di kota Kediri. Saya kuliah mengambil jurusan Manajemen Farmasi dan Alhamdulillah sekarang sudah bekerja di sebuah apotek di kota yang sama.
Huft….. tampaknya kisah hidup saya memang kurang menarik untuk diceritakan. Karena saya tidak pernah merantau keluar Kediri baik itu untuk belajar atau mencari nafkah. Orang tua saya masih merasa berat untuk membiarkan saya hidup sendiri jauh dari mereka. Meskipun saya anak pertama (dari 2 bersaudara) lelaki pula. Saya sebagai anak tidak pernah membantah mereka walaupun sebenarnya saya agak terkekang dengan perlakuan tersebut. Karena saya tak tahu apa yang mereka rasakan. Mungkin kelak jika saya sudah menjadi orang tua saya juga akan bersikap seperti mereka. Saya tidak tahu.
Mengenai dunia perpolitikan, saya saat ini masih terdaftar sebagai simpatisan partai politik tertentu yang juga menjadi koalisi Bapak. Tetapi saya kurang begitu aktif mengikuti agenda kegiatannya karena ayah saya melarang saya untuk aktif di partai tersebut. Menurut beliau partai yang saya ikuti berbeda tradisi tentang ajaran islam yang dipercaya ayah saya. Ayah saya memang dulu pernah menjabat sebagai ketua ranting salah satu partai politik yang juga menjadi koalisi bapak yang terkenal dengan memegang teguh ajaran islam khas pesantren. Beliau lebih suka jika anaknya mengikuti jejaknya.
Saya sebenarnya sangat tertarik dengan dunia perpolitikan, karena lewat politik saya bisa membela rakyat kecil, saya bisa membenarkan yang benar-benar benar dan menyalahkan yang benar-benar salah. Terpikir pula agar suatu saat nanti saya bisa menjadi anggota legislative agar bisa membuat undang-undang yang memihak kepada rakyat kecil. Doanya saja pak ya? Kan tiap malam Jumat ada istighosah di Istana Negara, gak ada salahnya kan kalau nama saya turut disertakan dalam doa di sana?
Semoga Bapak tidak ngantuk membaca kisah hidup saya. Kalaupun Bapak mengantuk semoga tidak bertambah penderitaan Bapak karena saya akan ganti bercerita tentang tempat tinggal saya. Kediri.
Saat mendengar kata Kediri, mungkin yang terbersit dalam pikiran Bapak adalah sebuah kota kecil di Jawa Timur yang terkenal dengan tahu takwa-nya. Kediri sekerang mungkin tidak seterkenal Kediri berkisar 100 tahun yang lalu, dimana Kediri masih menjadi kerajaan kerajaan besar di bumi nusantara dan pernah menjadi ibukota majapahit pada masa pemerintahan Girindrawardhana.
Kediri yang sebenarnya kaya akan peninggalan sejarah tapi karena kurang terekspose peninggalan-peninggalan sejarah di Kediri menjadi terbengkalai dan terkesan di acuhkan oleh masyarakat bahkan oleh pemerintah sekalipun. Seperti rumah almarhum colonel Soerachmad, tokoh yang turut mengambil bagian penting pada masa revolusi ini hanya tinggal menunggu waktu saja untuk rata dengan tanah dan berganti menjadi kafe dan arena futsal. Jika ditilik dari segi ekonomi rumah colonel Soerachmad yang terletak di jl.KDP.Slamet no.21 dan bersebelahan dengan gereja Immanuel ( masyarakat sekitar lebih mengenalnya dengan sebutan gereja merah karena warna catnya yang merah bata) memang strategis karena dekat dengan sekolahan dan perumahan. Tapi apakah demi materi kita harus mengorbankan asset sejarah?
Selain itu saya mendengar dari teman saya yang mengambil jurusan Ilmu Sejarah di Universitas Negeri Malang, bahwa prasasti tertua yang menunjukkan jejak kerajaan Kediri justru disimpan di Jerman. Padahal seharusnya kita lah yang paling berhak menyimpannya. Saya tidak tahu harus menyalahkan siapa tentang kasus-kasus di atas, apakah pemerintah, ataukah masyarakat sekitar yang bersikap apatis terhadap peninggalan sejarah di daerahnya sendiri. Tapi setidaknya orang Jerman lebih tahu cara menghargai dan menjaga peninggalan sejarah. Tidak seperti di museum-museum Indonesia yang sering mengalami pencurian koleksi barang sejarah sekalipun itu sudah disimpan di museum.
Saya juga mewakili dari teman-teman pencinta sejarah Kediri meminta kepada Bapak untuk bisa lebih memperhatikan nasib benda-benda peninggalan sejarah di negara kita. Mungkin hal yang saya sebutkan di atas cuma sebagian contoh kecil dari vandalisme peninggalan sejarah di Indonesia. Semoga tidak terjadi lagi hal-hal tersebut dimasa yang akan datang. Kalau saja masyarakat Indonesia mencintai dan menjaga sejarah seperti orang tua saya yang meng-eman-eman saya untuk pergi merantau ke daerah lain hal tersebut pasti tidak akan terjadi.
Saya kira cukup sekian Pak curhat dari saya, semoga Bapak tidak mengantuk sehingga dapat mengambil tindakan dan perubahan seperti yang bapak janjikan benar-benar bisa terwujud. Kalau Bapak lewat jalan raya Kediri-Nganjuk tak ada salahnya untuk mampir di pasar Banyakan guna membeli mangga podang yang tersohor karena warna dan aromanya yang menggoda. Atau jika Bapak lewat terminal Tamanan di sana ada Soto Ayam Bok Ijo yang rasanya mak nyus. Atau Bapak cukup mampir ke rumah saya dan saya akan membelikannya untuk bapak.
Beribu terima kasih saya sampaikan karena Bapak telah meluangkan waktunya untuk membaca curhat dari saya, dan beribu maaf juga saya haturkan jika ada kata-kata yang menyinggung hati Bapak. Semoga saja curhat saya ini mampu menginspirasi Bapak untuk mengumandangkan kata “LANJUTKAN…!”

Kediri 13 Oktober 2011

Moenir al-Banny

EPILOG
Karena saya bingung mau mencari tema apa untuk saya sampaikan di curhat untuk SBY. Saya mengirim SMS beberapa teman saya dengan sms sebagai berikut: “jika kamu diberi kesempatan untuk curhat dengan sby apa yang kamu sampaikan,?”
Berikut adalah beberapa jawaban menarik dari mereka:
-ABDUL ROCHIM (anak yang baik di desanya)
“tanamkan sifat disiplin, jujur, bertanggung jawab, pada generasi muda. Matikan para korupto agar Negara bisa maju. J OK
-AHMAD SAY (no coment)
“pusing mikir uripku ndewe wise” (aku sudah pusing memikirkan hidupku sendiri)
-FANISTIKA LAILATUL MAKRIFAH (mahasiswi ajah deh)
“rahasia hanya saia dn sby yg tau,,qm g bole tau,,tapi kpn y dpt ksempatan it,?”
-FUAD BAHRONI (no coment)
“ngimpi”
-AJENG ARININGSUN (si bolang dari trenggalek)
“saya mau bilang,,pak sby,,saya capek” (habis syuting si bolang)
-WANDA NUR KARIMAH (cewek cuek)
“gs pingin curht apa2 ;p
-ZULIVA DWI (mahasiswi narsis)
“akku minta foto bareng? Heheheh”
-VIRMANSYAH (teman sekampung, aku masih punya utang pulsa sama doi)
“q pingin crhat msalah temenq…..
Q pingin nanya caranya nagih utang yg manjur tu gimana,,,,”
-CHANIF AL ABEDAN SAKUROY (mahasiswa golongan kiri)
“kapan Indonesia merdeka?”
-SETYO WAHYU ANDRIANI (cewek idaman lelaki)
“q kpingin jadi mantune…. Wkwkwkwk”
-AGUS SAKTI HARDI (aktivis mahasiswa)
“sakti: bapak rumahnya mana,? Saya anterin.
Sby: sungguh mulia hatimu nak,,,”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s