(CERPEN REMAJA) 60 MENIT

Bulir-bulir embun dari es jeruk yang kupesan tadi mulai menetes membasahi meja, seperti menyaingi keringatku yang seperti diperas udara panasnya musim pancaroba. Biasanya melihat senyummu dibalik meja menjadikanku kembali segar laksana padi dengan tanah terbelah mendapat hujan sehari. Tapi tidak hari ini, karena aku akan mengungkapkan rasa yang telah kupendam selama 3 tahun terakhir ini. Ya… sejak aku di tahun pertama memakai seragam abu-abu putih dan melihat senyum dan mata mutiara mu itu, aku seperti merasakan bayang keindahan wajah bidadari dalam hadist-hadist yang sering dituturkan ulama saat acara siraman rohani setiap sore di radio kesayanganku. Sejak itu aku berusaha menyelidiki siapa dirimu, gadis si pemenang senyum termanis dalam hidupku.

“kamu sakit” tanyamu mengagetkanku.

“enggak… enggak…” kataku tergagap sembari pura-pura membenarkan letak kacamataku.

“kok kamu kringetan gitu. Jusnya diminum gih… aku ikhlas lo sumpah…”

bibirnya mulai manyun, membikin aku tak tega melihatnya, atau lebih tepetnya tak tega kehilangan senyum manis khas-mu. Aku mulai meraih sedotan sambil memutar-mutarnya, agar sari jeruk dan air es larut tercampur. Kalau saja aku punya sihir layaknya Gryffindor akan kusihir kekalutan fikiranku agar terlarut bersama es jeruk di hadpanku.

“iya nih aku minum. Ahhh… seger…! eh, kok baksonya belum datang juga ya?” tanyaku coba mengalihkan kegalauanku.

“iya nih, coba ku lihat ke belakang” katanya sambil mengangkat pantat dan melangkah menuju dapur kantin sekolah. Tangannya dengan reflek membetulkan letak jilbabmu, yang padahal tidak terusik dan tetap cantik.

Entah kenapa kejadian yang sebenarnya cuma berlangsung beberapa detik itu bisa kuketahui secara detail layaknya slow motion lewat dvd. Atau memang inikah rasa spesial itu? Rasa yang mulai tumbuh saat kita bergerak menuju kedewasaan. Aku yang sering berpikir kalau sinetron cinta-cintaan dan drama korea itu alay. Ternyata rasa ini memang benar-benar membikin alay.

“Aku harus bisa mengungkapnya sekarang!”

“apa?” kamu yang datang dengan dua bakso di kanan-kiri tanganmu, jelas mengagetkanku. Hampir saja mangkok bakso itu aku jatuhkan dari tanganmu.

“eh sori…!” kataku meraih cepat-cepat bakso di tangan kirinya yang mulai kehilangan keseimbangan, agar tak jatuh. Tapi terlambat. Sebagian kuah bakso tersiram di bajumu.

“wah… sori jadi basah” kataku setelah meletakkan bakso di meja, ku melupas dasi ku dan sodorkan padanya.

“gak mau ahh kan dasi kamu sering kamu buat serbet ingus…” katanya menolak pemberianku dan mengambil sapu tangan kotak-kotak biru dari saku rok nya.

“hahaha tau aja.” hiburku pada diriku sendiri, sambil melingkarkan begitu saja dasi ke leherku.

Ditolak emang sakit, walaupun itu cukup masuk akal alasannya, tapi tetap aja sakit. Aku mulai bergeming apakah aku akan mengungkapkannya sekarang atau biar rasa ini terkubur bersama kenangan indah mas putih abu-abu lainnya dan jadi mimpi penghias tidur semata.
Kita sudah saling tahu kebiasaan masing-masing, dari yang memalukan sampai yang membanggakan. Dari yang hobiku yang menjadikan belakang dasi merangkap sapu tangan, sampai hobinya yang gak pernah mau kutraktir makan, kecuali pada hari-hari spesial.
Di bidang akademik kami saling melengkapi, dia amat piawai berbahasa Inggris bahkan pernah menjadi finalis lomba speech tingkat provinsi. Maklumlah mungkin bakat itu dia dapat dari orang tuanya. Ayahnya seorang duta besar di negara bagian di Australia. Sementara aku lebih suka mainin angka. Jadi kalau ada kesulitan kita bisa saling membantu. Dan hal itu pula yang semakin membuat kami akrab.

“eh tadi kamu ngomong apa tadi?” tanya nya sambil menyendok bakso di depannya.

“ahh nggak cuma tadi ada lalat ngajak ngobrol” jawabku ngelantur.
Yah ini satu lagi kebiasaan burukku. Terlalu banyak bercanda. Aku takut jika mengungkapkannya nanti, malah dikira bercanda, emang nasib punya wajah gak ada gurat-gurat seriusnya walaupun sudah pakai kacamata minus kesannya malah jadi dork.
Tak teras sudah 60 menit berselang sejak aku dan dia duduk dengan ditemani es jeruk, es teh, dan dua mangkuk bakso, serta beberpa gelintir siswa kelas XII lain yang juga punya tujuan sama, untuk mengambil ijazah di tengah prosesi liburan yang dijalani anak kelas X dan XI.
Gelas di depanku cuma tinggal es batunya saja, aku masih mengaduk-aduknya, berharap agar es nya cepat mencair dan mampu mendinginkan pikiranku yang kalut.

“huuft… sebenernya ada yang ingin aku sampaikan ke kamu” aku memberanikan diri.

“aku sebenarnya juga ada yang mau aku sampaiin ke kamu” kata nya sambil meletakkan dagu di telapak tangan kirinya. Dan matanya itu, ahh… serasa aku ingin mengambil mata itu dan menyimpannya di kamarku.

“kalau begitu ladies first please” kataku sambil ikutan meletakkan dagu di telapak tangan kananku.

“ya kamu dulu dong, kamu kan yang bilang duluan…” dia menjulurkan lidahnya, mengejekku. Tapi entah mengapa dia makin terlihat cantik dengan pose seperti itu.

“kebersamaan kita selama tiga tahun ini…”
sebenarnya sudah banyak teman yang menganggap kalau kami sudah menjadi pasangan kekasih. Padahal kita cuma partner dalam belajar yang kebetulan sama-sama cocok dan memang dari pandangan pertama aku sudah suka sama kamu. Tapi aku cuma nunggu saat yang tepat-semoga ini bukan kamu anggap dalih ku agar kamu nggak ngatain aku pengecut-buat mengatakannya.

“huuuft… kebersamaan kita yang tiga tahun ini… emmm… mungkin ini hari terakhir kita bersama di sekolah ini. Aku ingin mengakhirinya dengan indah. Aku ingin tahu kalau aku sayaaaang banget sama kamu, dan aku gak ingin akhir belajar kita di sekolah ini juga jadi akhir hubungan kita.” aku gak berani menatap wajah nya, tanganku terus mengaduk es batu di gelas yang sudah mulai mencair.

“sayangnya, A-nya berapa banyak?”
tampaknya dia banyak belajar dari banyolanku. Aku beranikan diri menatap wajahnya. Oohhh senyumnya, keindahan matahari saat terbit dipuncak bromo pun kukira tak sanggup menandingi keindahannya.

“ahhh.. serius nih. Kita pacaran ya?” aku mulai berani ngomong to the point.

“kamu kira, cewek mana yang mau dampingin seorang cowok selama tiga tahun, tanpa hubungan yang jelas. Padahal ada zaki yang sudah nembak aku, ada winto yang suka sms aku tiap malam. Mereka aku cuekin cuma buat demi kamu. Aku tu juga sayang kamu, udah lama, sejak dari pertama kita bertemu.” katanya dengan muka dicondongkan ke depan ke arahku.
Aku kaget dengan ucapanmu, tak kusangka Zaki yang dengan wajah indo-nya seorang bintang basket sekolah, dan Winto yang juara olimpiade biologi tingkat provinsi pernah naksir kamu.

“jadi… zaki sama winto pernah nembak kamu juga?”

“udahlah itu gak usah dibahas, yang penting kamu serius kan sama aku?”

“iya dong!” kataku mantab sambil tersenyum lebih lebar.

“mengenai hal yang ingin aku ungkapakan… sebenarnya suasana seperti ini kurang pas untuk diungkapin. mungkin aku ungkapkan lain kali saja.”

“ada apa sih? Gak apa bilang sekarang aja, kan perjanjiannya tadi habis aku ngungkapin terus giliran kamu…”

dia diam agak lama. Sampai akhirnya…

“aku mau ngelanjutin kuliah di australia” katanya agak berat. Wajahnya menunduk, aku tahu matanya agak berkaca-kaca.

“bagus dong…! kamu bisa lebih dekat dengan ayahmu di sana…!”
kataku menghiburnya. Walaupun di hati aku merasa kecewa berat.
Tangisanmu benar-benar tumpah. Aku beranikan diri menyodorkan kembali dasiku yang tergulung di leher. Kali ini kau meraihnya. Mengusap air mata yang seperti pisau, perih menusuk jantungku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s