[CERPEN PERSAHABATAN] LAKI SEHATI

Akhirnya aku sampai juga di rumah berpagar besi dengan cat biru langit yang tampak mulai kusam ini. Hemmm… tak terasa udah hampir tujuh tahun aku gak pernah bertemu dengannya. Kira-kira seperti apa wajahnya, selucu apa anaknya, dan apakah istrinya masih cantik seperti dulu.

Di balik rasa rindu dan penasaranku padanya, masih terbalut rasas segan dan ragu, apakah aku benar-benar akan mengungkapkannya. Tapi mengingat sms kamu semalam, perlahan aku coba pupus rasa raguku, kuberanikan jari telunjukku menekan bel di sebelah kiri pagar besi.

Tak berapa lama setelah bel berbunyi muncul anak gadis yang memakai baju sekolah dasar. Wajah gadis kecil ini mengingatkanku pada seseorang. Dia berlari menyongsong gerbang, dan dengan agak kesusahan. Aku berusaha membantunya dengan mendorong pagar besi ini kesebelah kanan, agar terbuka.

“kelakuan ni anak tetap saja ceroboh kayak dulu, kalo saja aku ini orang jahat udah kuculik lalu kujual anakmu ini…” membatinku sendiri dalam hati. Terbayang kembali kelakuan-kelakuan gilaku bersamanya. Senyam-senyum sendiri aku membayangkan.

Dari dalam rumah terdengar teriakan, “siapa kak…?” suara berat laki-laki yang kulihat sudah tak asing wajahnya itu, menyongsong gadis kecil dari dalam rumah, sembari menyampingkan jarit batik di lengan kanannya.

“gak tau yah…” katanya sambil berlari menuju pelukan ayahnya.

“oh kamu Yon…? gimanA kabarnya? Tumben mampir?” berondongan pertanyaan yang diajukan Sentot padaku.

“iya nih udah lama banget gak ketemu kamu…”

“Hahahah… ayo masuk dulu!” katanya dengan tangan kirinya merangkulku dan tangan kanannya tetap menggendong gadis kecil berbaju SD tadi.

“silakan duduk pak Aryon… mau minum apa pak?” begitu sapanya padaku setelah memasuki ruang tamu.

“haha apa aja yang penting seger.”

“sini dulu ya Fazza sayang, temenin oom Aryon ngobrol ya?” kata si sentot sambil meletakkan anaknya di kursi dan melangkahkan kakinya menuju dapur.

“kamu namanya siapa?” tanyaku pura-pura belum tahu namanya. Maklum saja aku terakhir kesini saat aqiqoh sekaligus ngasih namanya si fazza ini.

“Fazza…”

“Fazza siapa,?”

“nul fazza adityalani” katanya dengan lafal yang masih kurang fasih saat penyebutan huruf -R.

“sekarang kelas berapa?”

“kelas satu oom”

“kalau ke sekolah diater apa belrangkat sendiri?”

“berangkat sendili oom…”

“wah berani juga ni anak…!” batinku, mengingat tempat tinggal temanku ini merupakan lingkungan perkotaan dan biasanya daerah perkotaan malah rawan
dengan penculikan anak.

“gak dianter ayah?”

“gak oom ayah kalo pagi kelja”

“oh… kalau mama kamu?”

“mama udah meninggal waktu ngelailin adik…”

“apa?!” hampir copot mataku mendengar katanya.

“……” fazza justru terdiam… matanya kosong, sepertinya dia membayangkan saat-saat indah bersama mamanya atau mungkin saja dia takut dengan mataku yang mau copot tadi.

“hei ada apa kok jadi sepi?” suara bass sentot agak mengagetkanku. Dia datang dengan membawa baki dan gelas besar berisi susu soda, minuman favorit kita pas masih hobi nge-warung.

“owh minumnya sudah datang…!” sahutku mencoba mencairkan suasana dan menutupi kekagetanku atas apa yang diucapkan fazza tadi.

“monggo mas Aryon diminum dulu…!” kata sentot, diikuti dengan gerakan manja fazza yang beranjak ingin dipangku ayahnya.
Aku segera meminum susu soda itu, mengingat aku sudah menahan haus sejak berangkat menuju kesini tadi.

“jadi istrimu si Pratiwi…” aku agak ragu memulai pembicaraan tentang istrinya.

“maaf yon aku gak bisa menjaga pratiwi dengan baik…” katanya dengan suara berat dan matanya mengalihkan pandangan dari wajahku.

Slide-slide masa lalu muncul lagi, saat ada anak pindahan di SMA ku dulu. Namanya Rahma Pratiwi, anaknya putih manis, senyumnya memikat, matanya cerah, selalu ceria, dan membahagiakan orang yang memandangnya. Banyak anak-anak cowok baik yang masih jomblo atau sudah punya pacar terpikat padanya. Aku yang saat itu aku sudah berpacaran dengan Fatma sementara Sentot katanya masih nunggu cewek yang sempurna untuk dia. Setelah kedatangan Pratiwi aku pun menyemangati dia dan mengatakan padanya kalau pratiwi adalah sosok yang sempurna dan serasi buatnya. Karena dia agak canggung dengan mahluk indah yang disebut cewek, akhirnya aku dulu lah yang memulai pendekatan itu untuknya. Bahkan aku sempat marahan dengan Fatma gara-gara melakukan konspirasi pendekatan itu. Singkat cerita aku yang sudah akrab dengan pratiwi mengatakan padanya kalau temanku ada yang naksir dia. Lebih singkatnya cerita akhirnya sentot dan pratiwi pacaran, entah kenapa sentot yang awalnya malu-malu sama cewek, bisa menghamili pratiwi saat perayaan setelah kelulusan SMA. Karena orang tua Sentot memang kaya oleh usahanya showroom mobil second mudah saja bagi mereka untuk menikah tanpa perlu pusing mikir biaya, lalu lahir lah Fazza, si cantik yang wajahnya mirip dengan ibunya ini.

“dia meninggal pas ngelairin anakku yang kedua Yon…”

“dia memang wanita hebat, dia akan mendapatkan tempat terbaik di sisinya.” aku mencoba menghiburnya.
Terlarut kami dalam lamunan masing-masing. Aku pun jadi ragu untuk mengatakan maksud hatiku datang ke tempat ini. Fazza tampak semakin nyaman saja dipelukan ayahnya.

“kau sekarang jadi lelaki hebat, bisa mengurus dua anak sendirian…”

“hemmm sudahlah hidup ini memang sebuah pelajaran yang langsung diajarkan oleh Tuhan” tukang teori itu mulai mau ceramah.

“by the way kapan kamu mau nikahin Fatma, masak dari jamannya pak suharto sampai pak SBY masih pacaran terus?”

“ahh alay kamu, gak segitu lama juga kali…” aku melihatnya mulai bisa tersenyum. Aku pun juga ikut tersenyum, walaupun di dalam hatiku masih tersimpan gundah, karena sebenarnya kedatanganku kemari buat meminjam uang padanya, untuk melamar Fatma, yang katanya kalau aku gak segera melamarnya, dia akan dijodohkan dengan anak pedagang emas dari kecamatan sebelah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s