(CERPEN) KUMIS DIHARAMKAN PRESIDEN

b6ae7aee195c1212b52577037c2211e4_a
2 HARI YANG LALU
Seperti hari-hari sebelumnya, setelah mengakhiri aktifitas, aku dan teman-teman ku mendinginkan otak dengan menghabiskan waktu duduk-duduk di warung Mbokdhe Yah, dengan cuma ditemani segelas kopi susu dan beberapa potong pisang goreng kami bisa mengahbiskan waktu berjam-jam di situ. Warung itu terletak kurang lebih 100-an meter dari kampus fakultas teknik tempat aku belajar. Selain karena suasananya yang nyaman, ada kost putri tepat di depan warung itu Sehingga aku bisa memanjakan mata dengan menyaksikan cewek-cewek ber-hotpant dan ber-tanktop ria setiap aku ngadem di warung itu. Maklumlah di kelasku mahasiswinya cuma dua orang, dan itu pun belum bisa dipanggil cewek tulen karena dandanannya gak jauh beda dari kita-kita yang seorang cowok. Tapi hari ini aku melihat ada hal yang menarik nya hampir sama dengan melihat paha cewek. Ada headline koran nasional yang menulis KUMIS AKAN DIHARAMKAN PRESIDEN.

HARI ITU
Ayah sudah mulai berdandan menggenakan setelan beskap. Sepintas mirip dengn penampakan sunan Kalijaga yang kutahu dari gambar-gambar poster yang sering dijual di makam-makam wali. Sementara para bapak-bapak yang lain sedang menulis huruf besar-besar di atas kertas manila A2 dengan berbagai tulisan yang mengecam keputusan presiden yang akan mengeluarkan keppres terkait larangan memelihara kumis. Ada yang menuliskan “TANPA BRENGOS*1 AKU BUKAN LELAKI”, ada juga TANPA KUMIS AKU DIPANGGIL MISS”, ada pula yang lebih serius seperti, GAK ADAKAH URUSAN LAIN LEBIH PENTING DARIPADA KUMIS?, dan beragam kalimat-kalimat lain yang kiranya mampu menarik perhatian masyarakat dan siapa tahu bisa merubah niat presiden buat menurunkan keppres tersebut. Dan aku sendiri sibuk dengan facebook untuk mengajak janjian kelompok lain yang punya niat sama buat berdemo di depan istana negara.

2 HARI YANG LALU
“Terpilihnya presidan Umar al-Banny, membawa dampak perubahan besar buat negara ini. Kesejahteraan masyarakat semakin merata, pendidikan semakin maju, tingkat kesehatan masyarakat meningkat, dan nilai kriminalitas juga semakin menurun. Tapi baru-baru ini, tersiar kabar bahwa presiden akan mengeluarkan keputusan yang sedikit unik dan kontroversial. Beliau akan membuat keppres tentang larangan menumbuhkan dan merawat kumis. Karena pria berkumis identik dengan orang Yahudi*2…” bacaku keras-keras di depan ayahku.
“Tidak ini tidak bisa dibiarkan, kumis melambangkan kewibawaan buat para lelaki…!” sontak ayahku memotong bacaanku sembari bangkit dari duduknya.
Aku tidak melanjutkan membaca harian pagi yang kubeli sesaat setelah ngadem di warung Mbokdhe Yah tadi, karena tertarik dengan headline besar berjudul KUMIS AKAN DIHARAMKAN PRESIDEN. Presiden kita yang baru terpilih 3 tahun ini, memang dikenal dengan sikapnya yang berani menentang Amerika dan Israel. Tahun pertama saja beliau berhasil mengusir restoran franchise milik amerika dan menggantinya dengan restoran franchise milik bangsa sendiri yang rasanya tidak kalah jauh dengan restoran cepat saji milik negeri Paman Sam itu. Tapi, untuk keputusannya yang satu ini, menurutku pribadi terlalu mengada-ada. Sunan Kalijaga saja juga memelihara kumis, hal itu cukup bisa memberi bukti kalau orang islam pun boleh memelihara kumis.
“Besok kita harus ke ibukota, kita akan demo di depan istana…! akan ku kerahkan seluruh warga kampung, kalau perlu kita ajak saudara-saudara kita sekalian.” ayah bilang begitu sembari ngeloyor pergi, entah mau kemana.
Ayahku seorang kepala dusun yang sudah dua periode ini menjabat. Sifatnya yang berani dan ditunjang postur tubuh yang tinggi besar dan wajah yang bersahaja dengan kumis menghias di atas bibirnya, menjadikan dia tampak berwibawa sehingga mudah dipercaya masyarakat untuk menjadi pemimpin kampungku.
Mata ku beralih ke ibu ku, berharap beliau mampu mendinginkan emosi ayah saat sudah kembali nanti dan memberikan masukan yang lebih bijak. Tapi setelah tahu aku menatapnya dengan pandangan penuh harap, dia justru berpaling dan melangkah menuju dapur. Sepertinya dia juga tidak setuju dengan keputusan presiden kali ini, dan tidak ada jalan lain selain berdemo di depan istana.
“Mas Adi… Mas Adi…”
“Ya…” agak tergopoh-gopoh aku mendengar teriakan beberapa orang dari luar rumah.
“Ya Pak, ada apa?” tanyaku pada enam orang bapak-bapak yang keenam-enamnya masih menggenakan seragam kebesaran mereka sebagai petani lengkap dengan capilnya pula.
“Mau daftar buat besok berangkat ke ibukota…” kata salah seorang bapak yang kumisnya sudah mulai beruban.
“Waduh, saya belum mengerti Pak. Ada apa? Kenapa ke ibukota?” kata ku pura-pura lugu.
“Pak Kamituwo*3 tadi bilang katanya besok mau demo ke istana negara semua transportasi dan konsumsi akan ditanggung sama beliau” sambung bapak yang lain yang kelihatan lebih muda dan juga berkumis tipis.
“Wah wah sebentar tak ambil buku dulu.”
“Gila bener ayahku baru keluar beberapa menit sudah bisa memprovokasi orang buat nurutin perintahnya.” Batinku seraya beranjak masuk lagi ke dalam rumah.
Tak sampai lima menit aku sudah meneteng buku folio besar dan sebuah ballpoin untuk aku mendata nama-nama yang akan ikut ke ibukota. Tapi begitu aku sampia di depan rumah, sudah ada sekitar 21-an pria berkumpul di depan rumahku untuk berbuat hal yang sama dengan ke enam bapak-bapak tadi.

1 HARI SEBELUMNYA
Semua sudah berkumpul 56 orang. 33 pria dari kampungku dan 23 sisanya berasal dari kampung-kampung sebelah dan kerabat dari beberapa peserta dari kampungku. Ayah membooking 2 gerbong kereta api dengn tujuan ibukota. Dengan naik kerata api perjalanan dari kampungku menuju ibukota memakan waktu sekitar 7 jam. Gerbong ini menjadi seperti ajang pameran kumis dari berbagai model dan bentuk. Dari yang mulai tumbuh kumis sampai yang kumisnya sudah beruban, dari yang berkumis di tengahnya saja seperti milik Charlie Chaplin sampai yang kumisnya bergaya ala jambul khatulistiwa seperti jambul milik Syahrini. Rasanay geli juga buat aku yangg rajin mencukur kumis ini untuk naik kereta api dengan dipenuhi orang-orang berkumis.
Aku mencoba menyibukkan diriku dengan bermain-main dengan komputer jinjing bermerk buah apel yang tergigit sepertiga-nya. Kunyalakan facebook-ku. Tiba-tiba muncul ide terlintas. Aku akan menghubungi kenalanku di jakarta yang menjadi teman facebook-ku. Aku cari satu persatu dari daftar teman. Cukup sulit kiranya mencari seorang dua orang saja dari ribuan teman yang kupunya. Eureka….! akhirnya aku menemukan sebuah nama, tapi aku ragu apakah dia mau membantu ku.

HARI ITU
Jam sudah menunjukkan pukul setengah 8 pagi, seperti perjanjian yang aku sampaikan lewat facebook. Ayahku dan rombongan demonstran dari desaku akan bertemu dengan rombongan yang dipimpin oom krisna di Taman Pemuda. Oom krisna adalah seorang pimpinan sebuah perusahaan mesin berskala nasional di ibukota. Sebenarnya aku ragu apakah dia akan mau membantuku emm… maksudku membantu ayahku untuk berdemo menentang keputusan nyeleneh presiden. Tapi nyatanya beliau sangat mendukung dan akan membantu baik berupa tenaga maupun materi. Katany beliau senang berinteraksi langsung dengan anak buahnya untuk sekedar jalan bersama. Sebab itu pula lah kekuatan perusahaan yang dia pimpin jadi semakin kokoh karena tercipta hubungan yang baik antara anak buah dan pimpinan. Aku mengenal beliau lewat grup yang membahas segala hal tentang permesinan di facebook.
Tak berapa lama, muncullah gerombolan orang dari arah utara yang sudah mulai berorasi sepanjang jalan. Tampaknya mereka itu lah rombongan anak buahnya oom Krisna. Setelah jarak pandang yang mencukupi untuk aku yang seorang minus tapi malas memakai kacamata ini melihat wajah-wajah mereka. Tampak di rombongan paling depan ada bapak-bapak jangkung berkumis dengan memakai batik lengan pendek berdiri di atas mobil bak terbuka dengan dua sound system besar di belakangnya, memimpin pasukannya menuju ke arahku ke arah Taman Pemuda. Tidak salah lagi itu lah oom Krisna, walaupun aku belum pernah bertatap muka secara langsung, tapi aku seolah-olah sudah merasa akrab dengan dia, seperti sudah ada ikatan batin. Orang itu meloncat dengan gerakan yang cukup lincah, tampaknya orang ini tetap meluangkan waktunya untuk berolahraga disela-sela kesibukannya.
“Adi Diadi ya..?” beliau memanggil nama yang tertulis di akun facebookku duluan.
“Iya, oom Krisna Karya pasti…?” aku membalas panggilannya dengan turut menyebutkan nama akun facebooknya sembari mengulurkan tangan kanan untuk menjabatnya.
“Kenalin oom ini ayah saya pak Darmo Wibowo” kataku lagi.
“Saya krisna pak, teman facebooknya Adi” kali ini oom krisna yang mengulurkan tangan kanannya duluan.
“Ooh ini ya,? Pak Krisna pemimpin PT.Karya Mesin yang terkenal senusantara itu?” ayahku menyambut uluran tangan oom Krisna sembari memindahkan megaphone yang ia tenteng ke tangan kiri.
“Iya alhamdulillah pak, ini saya mengajak beberapa anak buah saya” kata oom Krisna sambil menunjuk ke belakang, ke arah pasukannya yang berjumlah… entah berapa, sepertinya lebih dari seratus orang.

1 HARI SEBELUMNYA
Pukul 8 malam kami tiba di ibukota dengan selamat. kami mencoba mencari penginapan yang paling dekat dengan stasiun. Setelah tanya kesana kemari dan ditolak beberapa motel karena kamar yang tersedia kurang mencukupi. Akhirnya kami menemukan sebuah penginapan yang mempunyai satu kamar yang luas sehingga cukup untuk kami yang ber-56 orang ini untuk tidur bersama-sama, walaupun cuma beralaskan karpet abu-abu yang alhamdulillah tidak bau.
Kami segera menepikan tas dan beberapa peralatan seperti megaphone dan beberapa ikat kertas manila berukuran A2 di tepi-tepi tembok. Aku segera membaringkan badanku di tempat yang kurasa paling nyaman Para rombongan tampak masih ada yang sibuk mencari makan dan ada pula yang menelepon saudaranya di rumah mengabarkan kalau dia sudah sampai dengan selamat di ibukota. Perjalanan tujuh jam dan persiapan-persiapan yang dari pagi sudah dilakukan oleh ayah tampaknya membuat dia cepat tertidur di sebelahku. Aku tersenyum, berharap rencana esok berjalan lancar. Dan aku pun ikut mencoba untuk mulai memejamkan mata.

HARI ITU
“KUMIS KUMIS KUMIS YANG PANJANG… PANJANGIN KUMIS SEKARANG JUGA” yel-yel dari para demonstran yang dipimpin ayahku membahana di halaman depan istana. Sementara pak Krisna berdiri di atas mobil bak terbuka di samping ayahku, dengan membawa spanduk bertuliskan “KUMIS SIMBOL LELAKI”. Aku sendiri duduk si posisi paling aman, di samping sopir pribadi oom Krisna yang biasanya menyetir BMW milik majikannya kini menyetir mobil pick up yang juga milik majikannya.
Para polisi nampak bersiaga dengan berbagai atribut kebesaran mereka. Nampak pula anjing-anjing gahar yang talinya masih terkekang ditangan polisi berada di barisan ke-dua. Hampir lima belas menit kami berorasi di depan istana, hingga muncul seorang bapak-bapak yang lagi-lagi berkumis dengan tubuh agak tambun di bagian perutnya saja, memakai safari warna coklat tua. Berlari tergopoh-gopoh sambil membisikkan sesuatu kepada seorang polisi yang sepertinya polisi itu adalah pemimpin pasukan yang menjaga demonstrasi hari ini. Hingga kahirnya polisi itu menyerahakan sebuah megaphone yang dia ambil dari dalam mobilnya.
“PERHATIAN SEMUA…. PERHATIAN SEMUA….!!!” orang bersafari itu mulai angkat bicara. Suaranya yang terdengar serak-serak basah begitu berwibawa. Serentak para demonstran pun terdiam.
“BAPAK PRESIDEN SEDANG MASIH DALAM KUNJUNGANNYA KE PULAU SEBERANG. DAN SAYA SUDAH MENGABARKAN KALAU ADA RATUSAN RAKYATNYA BERDEMO TERKAIT KEPPRES YANG AKAN DI KELUARKANNYA TENTANG PELARANGAN BERKUMIS.” pria itu mulai berkeringat. Perutnya yang tambun sepertinya membuat nafasnya agak sesak, sehingga menjadikannya mudah berkeringat.
“BELIAU MENYAMPAIKAN AKAN MEMPERTIMBANGKAN UNTUK MEMBATALKAN RENCANA PENGELUARAN KEPPRES TERSEBUT. DAN PENGUMUMAN AKAN DISAMPAIKAN PRESIDEN SECARA LANGSUNG DALAM JANGKA WAKTU 1X24 JAM.” Kalimat bapak bersafari yang terakhir ini membuat para demonstran yang merupakan bauran dari warga-warga sekitar kampungku dan karyawan perusahaan milik oom Krisna bersorak meriah. Tak terkecuali ayahku. Yang sura teriakan kebahagiaannya terdengar sampai di dalam mobil sekalipun tak memakai megaphone.

SATU MINGGU KEMUDIAN
Presiden benar-benar menepati janjinya dengan mengumumkan pembatalan rencana mengeluarkan keppres tentang pelarangan kumis. Hari-hari ku pun berjalan normal kembali. Dan aku mulai bisa bersantai sambil menikmati paha mulus khas cewek remaja sembari menikmati kopi susu di warung Mbokdhe Yah. Tapi aneh hari ini nggak ada sama sekali mahluk indah yang memamerkan paha dan ketiaknya di rumah kost itu. Hingga akhirnya aku menemukan penyebabnya, saat seorang kawanku membawa sebuah koran sembari berkata, “kita harus demo ke ibukota Di…!”
Aku mebaca headine yang dia tunjukkan di koran itu padaku, “HOTPANT DAN TANKTOP AKAN DIHARAMKAN PRESIDEN”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s